Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Tanjunganom Nganjuk

Mencetak Generasi Muda Yang Unggul dan Berprestasi

Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

MAN Insan Cendekia Harus Berbudaya

Oleh Admin 01-04-2015 08:47:56

MAN Insan Cendekia Harus Berbudaya

Pekan Baru (Pinmas) —- Deputy IV Kementerian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Prof Dr. Agus Sartono, MBA., melakukan kunjungan ke MAN IC Pekan Baru-Riau, Selasa (31/03) lalu. Sebagai Deputy IV Kementerian PMK yang membawahi tiga kementerian (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Agama) Agus Sartono ingin berkoordinasi dan memastikan bahwa proses pembangunan MAN IC di Riau benar-benar berjalan dengan baik.

Deputy IV Kementerian PMK di dampingi oleh Kasubdit Kelembagaan Direktorat Pendidikan Madrasah, Dr. Syafiuddin, disambut oleh sejumlah pejabat Riau, di antaranya Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, Wakil Bupati Riau dan Kepala Bidang Madrasah Kanwil Kemenag Riau.

Dalam pengarahannya, Agus Sartono menegaskan bahwa posisi Kemenko PMK ini sangat penting dan strategis, karena kualitas suatu negara itu tergantung pada kualitas sumber daya manusianya (SDM) . Ujung tombak pembangunan kualitas SDM adalah pendidikan. 

“Pendidikan itu bukan membuat orang pandai tetapi membuat orang berbudaya. Oleh sebab itu, pendidikan dikatakan sebagai proses pembudayaan. Kita harus memastikan bahwa anak-anak didik di MAN IC ini berbudaya,” katanya disambut dengan tupuk tangan para hadirin yang terdiri dari kepala madrasah se-Riau.

 “Mengajari anak-anak untuk pandai matematika itu hanya butuh waktu tiga bulan saja, tetapi untuk mengajari anak agar memiliki budaya antri itu butuh waktu dua belas tahun,” tambah Agus Sartono, lelaki kelahiran Purworejo yang pernah menjadi Kepala Biro Perencanaan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Agus Sartono juga menjelaskan bahwa kini Indonesia memiliki bonus demografi. Sebuah kondisi di mana populasi penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan dengan yang usia tidak produktif.  Periode ini tidak lama, hanya berlangsung sekitar tahun 2010-2035. Bonus demografi ini merupakan hasil dari program Keluarga Berencana di tahun 70-an. Ini artinya, pemerintah harus mempersiapkan untuk 20 tahun ke depan.  

“Kalau berricara 20 tahun dari sekarang itu adalah eranya anak-anak yang akan masuk di MAN IC ini. Bergitu dia masuk di MAN IC selama 3 tahun, maka 17 tahun kemudian mereka berusia sekitar 35-45 tahunan.  Itu usia di mana mereka akan memimpin bangsa ini. Kita harus siapkan dan kita pastikan sekarang ini. Pendidikan itu untuk 20-30 tahun ke depan. Kalau kita tidak mau menanam dari sekarang, kita akan gagal,” jelas Agus Sartono.

MAN IC adalah legacy bagi kita semua dan harus dipastikan bahwa anak-anak MAN IC kelak akan menjadi pemimpin,” pungkas Agus Sartono. (hmm/mkd/mkd)